Setiap 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Tahun ini, tema resmi yang diusung Kemendikdasmen adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” — sebuah pengingat bahwa setiap anak berhak atas lingkungan tumbuh kembang yang aman, sehat, kreatif, dan ramah anak.
Tapi mari jujur: ruang tumbuh kembang anak hari ini bukan cuma rumah dan sekolah. Ada dunia lain yang jauh lebih luas dan jauh lebih sulit diawasi — dunia digital. Dari situ lahir dua kecemasan yang paling sering muncul di ruang obrolan orang tua: kecanduan game online dan meningkatnya kenakalan remaja.
Dua Sisi Mata Pedang Dunia Digital


Ini bukan kekhawatiran berlebihan. Tim Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa FK-KMK UGM baru-baru ini menyoroti bahwa Yogyakarta — kota yang selama ini identik dengan tumbuhnya intelektualitas anak muda — ternyata menyimpan persoalan Internet Gaming Disorder (IGD) yang makin mengakar. WHO sendiri mendefinisikan IGD sebagai pola bermain game yang membuat seseorang kehilangan kendali dan menomorsatukan permainan di atas aktivitas hidup lainnya — termasuk sekolah dan pergaulan sehat.
Dampaknya sering merembet ke perilaku di dunia nyata. Sejumlah kasus kenakalan remaja di Yogyakarta, termasuk fenomena kriminalitas jalanan yang akrab disebut klithih yang masih terjadi. April lalu, misalnya, belasan pelajar diamankan polisi karena diduga berkonvoi membawa senjata tajam di wilayah Gunungkidul — insiden yang sempat menyabetkan senjata tajam ke arah pengendara motor di jalan. Kasus semacam ini jadi pengingat bahwa pengawasan dari keluarga dan sekolah tetap jadi kunci utama.
Sejumlah riset akademik di bidang pendidikan turut mengonfirmasi pola serupa: kecanduan game online kerap dikaitkan dengan turunnya konsentrasi belajar, gangguan pola tidur, hingga perubahan perilaku seperti mudah membangkang dan berkata kasar. Anak yang tenggelam dalam dunia game biasanya lebih antusias membahas level dan strategi permainan ketimbang pelajaran di kelas — sebuah gejala yang mestinya jadi alarm dini bagi guru maupun orang tua, bukan sesuatu yang dianggap wajar karena “semua anak sekarang begitu.”
Pertanyaannya kemudian sederhana tapi penting: bagaimana sekolah dan orang tua bisa hadir dengan solusi konkret, bukan sekadar larangan sepihak yang justru bikin anak makin sembunyi-sembunyi?
Aksi Nyata SMABA: Membangun Benteng Karakter Lewat Disiplin Positif
SMA Negeri 1 Banguntapan (SMABA) memilih jalan itu: mengalihkan ketergantungan gadget menjadi pembentukan karakter yang kuat, lewat pendekatan disiplin positif. Bedanya dengan pendekatan larangan konvensional, disiplin positif tidak berhenti di kata “jangan”. Pendekatan ini berusaha memberi anak ruang alternatif yang lebih menarik daripada layar gawai — sambil tetap menanamkan batasan yang jelas dan konsisten. Setidaknya ada empat pilar yang dijalankan SMABA secara bersamaan.
Digital Detox dan Lingkungan Belajar yang Fokus
Seluruh jaringan internet SMABA terintegrasi dengan infrastruktur Diskominfo dan Disdikpora DIY, lengkap dengan filterisasi ketat terhadap akses game online dan platform media sosial yang tidak edukatif selama jam sekolah. Di dalam kelas, penggunaan ponsel dibatasi secara tegas — hanya boleh dipakai saat memang dibutuhkan untuk instruksi pembelajaran dari guru. Tujuannya satu: mengembalikan fokus belajar siswa ke dunia nyata.
Langkah ini juga sejalan dengan regulasi nasional. Sejak 28 Maret 2026, Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Perlindungan Anak di Ruang Digital resmi diberlakukan penuh, membatasi ketat akses anak di bawah 16 tahun ke platform digital berisiko tinggi. Di SMABA, aturan ini diperkuat secara humanis lewat penanaman karakter — bukan sekadar larangan administratif.
Menjaga Integritas dan Kedisiplinan Konvensional


Di sisi lain, sekolah juga membangun sistem pengaduan digital internal yang memungkinkan siswa melaporkan kecurangan, perundungan (bullying), atau indikasi kenakalan remaja secara aman dan rahasia. Inovasi teknologi di sini dimanfaatkan secara positif — bukan untuk ditakuti, tapi untuk melindungi. Dengan begitu, siswa yang tadinya takut atau segan melapor secara langsung punya kanal yang aman untuk bersuara, tanpa harus khawatir identitasnya terbongkar ke pelaku.
Penguatan Fondasi Spiritual
Setiap pagi, siswa SMABA memulai hari dengan tadarus bersama — kebiasaan sederhana yang terbukti efektif menenangkan pikiran dan emosi remaja sebelum masuk ke jam pelajaran. Program kelas tahfiz juga menjadi wadah menanamkan nilai moral dan akhlak mulia, sebagai benteng spiritual alami yang tetap melekat pada anak bahkan ketika mereka berada di luar lingkungan sekolah — jauh dari pengawasan langsung guru maupun orang tua.
Pendekatan ini penting karena kontrol dari luar (aturan, filter internet, larangan) hanya berlaku selama anak berada dalam jangkauan pengawasan. Begitu mereka keluar dari lingkungan sekolah, yang bekerja adalah kontrol dari dalam diri sendiri — kesadaran moral yang sudah tertanam sejak dini. Di sinilah penguatan spiritual berperan sebagai lapisan pertahanan yang terus melekat, kapan pun dan di mana pun anak berada.
Harmonisasi Sosial dan Penyaluran Energi Kreatif


Logikanya sederhana: remaja pada dasarnya butuh ruang untuk menunjukkan eksistensi dan mencari jati diri. Kalau ruang itu tidak disediakan secara sehat, mereka akan mencarinya sendiri — dan tidak selalu ke arah yang positif. Dengan menyediakan panggung nyata lewat ekstrakurikuler, kompetisi, dan kegiatan seni budaya, SMABA berusaha memastikan bahwa kebutuhan itu terpenuhi tanpa harus lewat jalan yang berisiko.
Kader “Smaba Tertib”: Teladan dari Teman Sebaya
Salah satu yang membedakan pendekatan SMABA adalah keterlibatan siswa itu sendiri sebagai penggerak kedisiplinan — bukan cuma jadi objek aturan. Setiap pagi, kolaborasi antara MPK, OSIS, dan Praswatara Taruna Jaya turun langsung menyapa teman-teman mereka di gerbang sekolah sebagai kader “Smaba Tertib”. Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas, melainkan upaya menumbuhkan awareness sejak menit pertama anak menginjakkan kaki di sekolah — sekaligus menjadikan mereka teladan nyata yang bisa dilihat dan ditiru langsung oleh teman sebayanya.


Di balik gerakan pagi ini, ada peran krusial Seksi Bina Negara OSIS SMABA yang selalu siaga menjaga ketertiban, kedisiplinan, serta tata tertib seluruh peserta upacara dengan pendekatan yang tegas namun tetap edukatif. Sinergi ini kian diperkuat lewat program inovatif Majelis Perwakilan Kelas (MPK) bertajuk “Duta Tertib SMABA”. Lewat pendekatan teman sebaya (peer approach), para duta ini berhasil menumbuhkan kesadaran berkarakter tertib dan disiplin tanpa terkesan kaku atau menggurui — sesuatu yang jauh lebih mudah diterima remaja ketimbang teguran dari guru atau orang tua.
Lewat penanaman karakter disiplin di dunia nyata semacam inilah, SMABA secara bertahap membangun fondasi literasi digital yang mumpuni — modal penting agar seluruh siswa mampu menggalang persatuan, gotong-royong, dan kemandirian bangsa, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.
Perlindungan Anak adalah Tanggung Jawab Kolektif
Sekolah bisa memfasilitasi ekosistem yang aman selama anak berada di lingkungan SMABA. Tapi begitu bel pulang berbunyi, tongkat estafet berpindah ke orang tua. Di rumah, prinsip disiplin positif tetap berlaku: bukan dengan kekerasan atau larangan sepihak, melainkan komunikasi terbuka, pendampingan aktivitas digital anak, dan kesepakatan bersama soal batasan waktu penggunaan gadget. Riset dari FK-KMK UGM bahkan menegaskan bahwa kecanduan game biasanya tumbuh subur justru ketika rumah kehilangan ruang komunikasi dan kontrol — bukan semata soal seberapa ketat aturan yang diterapkan.
Perlindungan anak juga butuh sinergi yang lebih luas: sekolah, orang tua, kepolisian (Polda DIY), dan masyarakat sekitar perlu terus berkolaborasi memantau pergaulan anak di luar rumah dan sekolah. Tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendirian menghadapi tantangan zaman digital ini.
Kasus-kasus kenakalan remaja yang masih terjadi di sejumlah wilayah DIY menunjukkan bahwa persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan represif setelah kejadian terjadi. Yang lebih dibutuhkan adalah pencegahan sejak dini — dan itu hanya bisa berjalan efektif kalau semua pihak, mulai dari meja makan di rumah sampai ruang kelas di sekolah, punya kesamaan visi dalam mendampingi anak.
Menutup dengan Optimisme
Momentum Hari Anak Nasional menjadi refleksi sekaligus penegasan komitmen SMA Negeri 1 Banguntapan: melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis, tapi juga tangguh dan bijak digital. Sejalan dengan semboyan SMABA, Smart Is Crucial, Personality Is More — kecerdasan penting, tapi karakter jauh lebih penting.
Dengan sinergi yang kuat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, kecemasan terhadap bahaya laten dunia maya dan kriminalitas remaja bukan sesuatu yang mustahil untuk kita tanggulangi bersama — demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih terlindungi.
Selamat Hari Anak Nasional 2026.
Sumber pendukung: Kemendikdasmen RI, FK-KMK UGM, pidjar.com, sman1-btp.sch.id
